Senin, 18 April 2016

Minta Diri



Minta Diri

Aku merasakan mendung yang tak berhujan
Aku melihat kepergian yang tak berpulang
Rasanya gerah tak berkesudahan
Menunggu yang pergi tak kunjung datang

Kemarin kamu masih di situ
Minta diri memohon restu
Katanya kamu kan pulang
Tapi tak kunjung kau datang membawa kepastian

Aku boleh pergi?
Aku ingin gantian meminta diri
Jangan kau kira aku tak lelah
Jangan kau kira aku tak menyerah

Lihat jajaran manusia itu
Mereka sebenarnya bisa menghabisimu
Menggantikan posisimu yang tlah lama kosong dimakan waktu
Bosan menunggumu tanpa kehadiran yang ditemani kesendirian

Aku memang sampah
Bekas perempuan murah tak tau arah

Jangankan kau sayang
Aku sendiri pun hina melihat diriku yang sebenarnya

Maka pergilah
Ciptakan sampah-sampah yang lain
Sampai berbusa mulutmu kau bekam dengan bualan

Aku tak menunggumu lagi, sayang
Kamu tak perlu ingat tuk pulang

Solo, 11 Juni 2014

Minggu, 27 Maret 2016

Jangan Kesusu Kuliah S2

"Orang-orang pemberani yang berbekal rasa takut, itulah bentuk kehati-hatian. Sedangkan orang yang sebenarnya penakut tapi berbekal keberanian itulah yang dinamakan nekad.
...
Kepada si pemberani, ketakutan mengajarkan bahwa keberanian yang cuma berujung bahaya, adalah ketololan," Prie GS.

Santailah kawan. Santai yang bukan untuk berleha-leha. Baik pencapaian maupun proses memang tidak harus selalu merujuk pada yang orang lain mau.

Selo awake, bukan berarti selo pikire. Jangan yang kamu kira tidak berleha-leha fisiknya menandakan bahwa otak dan hatinya juga tidak bekerja.

Bukan berarti mereka yang tidak langsung kuliah S2 kualitas ilmunya hanya segitu-segitu saja. Jangan karena dia lulusan S2 dan kemudian jadi ibu rumah tangga lalu kau anggap percuma kuliah. Bukan karena si X atau si Y dengan IPK tinggi lalu jadi pedagang, atau sekedar baca buku dan menulis di rumah lalu kau anggap ijazah dan ilmunya selama kuliah itu sia-sia.

Oh, come on guys. Pikniklah sedikit supaya pemikiranmu tidak secupet itu.

Kuliah S2 kalau cuma kau kejar untuk memperpanjang gelar namamu lah yang lebih pantas kusebut percuma.
Kuliah S2 dan cari beasiswa kalau hanya untuk jalan-jalan gratis keluar negeri, juga buat apa sih, bro? Uang rakyat itu, bro. Pulang ke Indonesia udah siap kontribusi atau masih mau sibuk materi buat diri sendiri? Korupsi terselubung lho itu.
Kuliah S2 di luar negeri kalau cuma buat eksistensi, kok ya ABG banget

Tidakkah jika niat seseorang sudah begitu, maka dia seolah sudah menzalimi mereka yang hanya untuk bisa lulus S1 saja harus berjuang keras dan menangis darah? Atau bahkan bisa menginjakkan bangku kuliah saja harus banting tulang sana sini cari uang.

Kuliah dipergunakan oleh mereka karena memang ingin menambah khasanah ilmu dalam diri mereka. Dan jelas, ada niat muliah dalam diri mereka agar kelak ilmu yang mereka dapat bisa bermanfaat, tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga banyak orang.

Bermanfaat di sini tidak harus selalu diukur dari manfaat materi, eksistensi, dan jabatan yang tinggi. Tapi kearifan diri, kebijaksanaan dalam bersikap, dan kesediaan diri untuk berkontribusi adalah hakikat manfaat yang sesungguhnya.

Dari Hadits Riwayat Bukhari & Muslim yang merupakan Asbabun Nuzul nya Q.S. Al Araf: 57-58 juga dijelaskan kalau perumpamaan Allah dalam mengutus manusia dengan ilmu itu dibagi jadi 3, yaitu:
1. seperti hujan deras yang menerpa tanah, lalu tanah tersebut menyerap airnya sampai bisa menumbuhkan rerumputan.
2. seperti hujan deras yang mengalir di tanah kering hingga air tersebut diambil manfaatnya untuk manusia untuk kebutuhan hidup, dan
3. seperti hujan yang menyirami tanah berpasir yang tidak bisa menadahi air dan tidak pula menumbuhkan rumput.

Analogi yang pertama maksudnya adalah ilmu yang bisa diterapkan dalam kehidupan. Yang kedua adalah pengandaian ilmu yang disampaikan sehingga bisa bermanfaat kepada banyak orang. Dan yang terakhir adalah ilmu yang tidak bisa diterapkan juga tidak bisa bermanfaat untuk banyak orang. Benar-benar merugi, bukan?

Jadi sekarang... coba deh, hargai prinsip mereka yang mencoba santai dan legowo dalam mengambil keputusan. Orang yang semeleh bukan berarti dia kebanyakan leyeh-leyeh. Mungkin mereka sedang ikhtiar meluruskan niat. Pendidikan tinggi bukan sekedar trend. Kuliah S2 bukan sekedar kelanjutan jenjang pendidikan yang sama dengan SMP ke SMA. Ini soal prinsip, kelanjutan hidup yang berlangsung lebih lama.

Hati-hatilah dalam mengambil keputusan, jangan nekad.
Mari kita sama-sama mencoba ngrumat niat dan ngrumat semangat.
Semoga niat kita selalu dituntun ke arah yang baik, supaya prosesnya dimudahkan, dan hasilnya juga selalu dianugerahi kebaikan.


Gentan, 27 Maret 2016

Kamis, 05 November 2015

Limbung

Dalam jemu aku meramu setiap tamu termasuk kamu
yang datang menginap, sekedar singgah, atau hanya lewat menyapa
tidak kusangka, kubenci situasi semacam ini

yang kuinginkan dalam setiap pertemuan adalah ketiadaan sebuah perpisahan
lalu kusadar itu hanyalah omong kosong

bumi yang berputar kelak pun akan berhenti berotasi
kesulitan yang datang suatu saat juga kan pergi menghilang

juga rasa ini
yang tak terdefinisi

hanya ingin untuk kusampaikan
tapi membuang kata sama halnya memalukan

Kau tahu,
ada atau tidak adanya kamu
aku baik-baik saja
tapi kehadiranmu dalam benakku yang tak kusuka

seperti candu
lagak perawan yang merindu


Klaten, 5 November 2015
dnms

Sabtu, 10 Oktober 2015

Definisi Mandiri

Mandiri, berdikari, merdeka. Ketiga kata tersebut selalu merujuk pada makna positif yang selalu dibanggakan semua orang. Tapi independensi yang diagungkan banyak orang itu seringkali tidak diimbangi dengan kesiapan mereka untuk berjuang sendirian.

Hari ini saya belajar dari perjuangan seorang Lantip alias Wage yang berada dalam kisah Para Priyayi yang ditulis oleh Umar Kayyam. Sejak kecil ia tak tahu siapa ayahnya. Ia tumbuh sebagai anak penjual tempe yang begitu miskin. Namun nasibnya beruntung karena seorang priyayi yang menjabat menjadi seorang guru berkenan untuk merawat, membesarkan, serta menyekolahkannya ke pendidikan yang lebih tinggi.
Namun keberuntungannya tersebut harus ia syukuri di balik pahitnya hidup sendiri karena saat ia beranjak remaja, ibunya pun turut berpulang.

Hidup seorang Lantip begitu keras.

Sama juga seperti Rasulullah. Beliau SAW sejak kecil juga telah menjadi yatim piatu. Bahkan amanahnya sebagai seorang utusan Tuhan bukanlah perkara yang main-main.

Kadang aku malu jika aku terlalu meratapi nasib atas kesendirianku. Yang jauh baik fisik maupun batinnya dengan keluarga. Berkawan banyak walaupun tetap harus memiliki dinding pembatas.

Padahal sendiri juga bisa jadi berkah. Al Ghazali pun pernah menulis bahwasanya uzlah (mengasingkan diri) alias menyendiri guna bertafakur merupakan suatu hal yang lebih baik daripada ibadah setahun. Lagipula Tuhan tahu aku masih kuat dan mampu untuk melewati permainan kehidupan ini sendiri tanpa perlu berteman sepi.

Definisi kemandirianku saat ini lebih tertuju pada kemandirian finansial, yang halal lagi berkah. Aku sadar tugas dan tanggung jawab moralku masih banyak yang belum terpenuhi. Sehingga  aku ditakdirkan untuk menyelesaikan semua itu sendiri.

Siapa yang menyangka... siapa tahu (naudzubillah) jika aku terlalu terburu nafsu untuk mengikuti ego, aku justru mendapat malapetaka.

Yang penting Shirootoladzii na'an'amta 'alaihim... Aku percaya bahwa aku tidak benar-benar sendirian. Seperti musafir, setiap detil kehidupanku pastikan ditemukan dengan banyak orang. Dan tugasku hanya berdoa agar selalu dipertemukan dan dikumpulkan dengan orang-orang yang baik di mata-Nya.

Kamis, 10 September 2015

My First Official Job

Dalam tulisan saya di Antologi Kisah Birrul  Walidain yang berjudul "Mengeja Cahaya Surga", saya menulis bahwa saya dulu sempat kesal pada setiap tuntutan ibu saya. Banyak hal yang kontra, hingga akhirnya membuat saya tak tahan dan memilih banyak menghindar dengan ibu saya.


Beruntungnya sikap menghindar saya masih dituntun oleh Yang Mahakuasa.

Di saat-saat terakhir sebelum pergi, ibu saya pernah menyetujui keinginan saya untuk menjadi seorang dosen. Ini merupakan satu titik balik yang membuat saya kian dekat dengan beliau. Terlebih beliau juga bercerita kalau dulu ibu saya sempat bercita-cita untuk menjadi seorang guru.

Waktu berlalu, hingga beliau pergi, dan ketika saya telah lulus S-1, Satu tawaran datang.

...menjadi seorang guru...

Kalau pembaca sekalian tahu, atau bahkan kenal dekat dengan saya, maka kalian pasti tahu betapa celelekan-nya saya. Tanpa bermaksud ujub, saya memang dianugerahi kemampuan berbicara di atas rata-rata (It could be said that I'm cerewet enough). Nonetheless, I love to speak in public, yea... I do love public relation, even if it is teaching.

Sayangnya, sifat nyeleneh  saya sedikit mengganjal jika itu harus dibawa menjadi profesi seorang guru. Kalian tahu kan filosofi kata 'guru' itu bermakan 'bisa digugu lan ditiru'. Bagi saya, guru yang ideal adalah guru yang mampu mendidik tidak hanya mampu mengajar.

Terlebih lagi saya juga sempat tergiur untuk mencari pekerjaan lain yang lebih bergengsi dan berhonor tinggi, daripada menjadi seorang guru, di desa pula.
Tapi saya juga sadar... menjadi job-seeker semacam itu merupakan sesuatu yang tidak ada habisnya jika diniatkan hanya untuk mengejar materi dan jabatan semata.

Sampai akhirnya tawaran baik ini sempat mampu menghadirkan kegalauan saya yang sudah lama tidak pernah saya rasakan. Setelah istikharah dan mencoba berdiskusi dengan beberapa sahabat, keputusan yang saya ambil adalah 'take a chance'.

Senin, 5 September 2015 merupakan hari pertama saya mengajar.

Alhamdulillah,
Hampir seminggu berlalu... pekerjaan yang saya niatkan untuk mencari pengalaman sekalian supaya ilmu kuliah saya tidak menguap, kini berjalan dengan lancar.
Mohon doa ya, teman-teman semua... Semoga pekerjaan saya ini bisa jadi berkah dan bisa menjadi amal jariyah.

Minggu, 06 September 2015

Egois

Aku tidak ingin mendeklarasikan diri sebagai sosok yang idealis
Sebab aku begitu paradoks jika harus turun ke lapangan realita

Idealitasku begitu mudah beramah tamah dengan keadaan
sedangkan aku tidak bisa memaksakan kehendak, jika aku tidak mampu mengalahkan kenyataan

Kamu tahu? Mimpi-mimpiku sebenarnya sederhana saja
Tapi aku ter-nurture untuk menjadi sesuatu yang sederhana tapi lain dari yang lainnya.
Itu idealitasku yang sebenarnya
Itu yang menjadi ekspektasiku saat ini.

Tapi aku tidak bisa hidup di atas mimpi-mimpiku sendiri.
Ada banyak orang yang berharap banyak tentangku
Dan akhirnya aku harus beramah tamah untuk hidup dalam ekspektasi mereka
Jiwa ini harus berlapang dada, bahwa aku harus mengikuti saran mereka...
menjadi sosok yang mereka inginkan
yang mimpi-mimpinya setinggi langit, tidak sederhana, tapi terlalu mainstream untuk kulakukan


sebab aku tidak bisa menjadi orang yang idealis
di mataku, orang yang idealis sesekali terlihat egois.

dan aku... tidak bisa lagi menjadi egois untuk mereka, yang aku cinta

photo credited from: http://tamingthepolarbears.blogspot.co.id/2013/09/more-bipolar-psychology-broken-ego.html

Kamis, 14 Mei 2015

Kisah Gelisah Mahasiswa Sasing UNS #1

Teruntuk adik-adik tingkatku Sastra Inggris UNS yang begitu kucintai, tulisan ini kubuat untuk  menyampaikan kegelisahanku selama empat tahun ini. Tulisan ini kuharap juga bisa menyelamatkan masa depanmu dengan belajar dari kesalahanku dan para seniormu yang lebih dulu merasakan pahit manisnya menjadi mahasiswa Sasing.

Tulisan ini kubuat setelah mengamati, merenung, dan mencoba mencari celah dari berbagai masalah. Dan dengan tulisan ini pula, kuharap masih ada kesempatan bagiku untuk menyelamatkan generasi selanjutnya.

oke, cukup ya prolog melankolisnya. Langsung saja...

Adik-adikku yang kusayang,
saat kalian dinyatakan diterima sebagai mahasiswa jurusan Sastra Inggris, aku percaya kalian tidak merasakan euforia yang sama seperti mahasiswa jurusan lainnya.Tidak seperti mahasiswa baru Fakultas Kedokteran, Ekonomi, atau Komunikasi. Sastra seringnya hanya dianggap jurusan "kelas dua", alias jurusan pilihan kedua.

Di saat Osmaru, kalian bisa buktikan sendiri. Berinteraksilah dengan teman-teman barumu yang samar-samar terlihat tidak sedih juga tidak terlalu senang diterima sebagai mahasiswa Sastra Inggris.

Mengapa demikian?
Sebab di sana kalian akan bertemu dengan orang-orang yang diterima di pilihan kedua bahkan ketiga saat SNMPTN (yang mungkin di jaman kalian nanti namanya akan berubah lagi, intinya ujian masuk PTN). Di situlah kalian akan berinteraksi dengan beberapa orang yang mungkin akan mencoba SNMPTN lagi di tahun selanjutnya. Sebab mereka merasa berpotensi untuk bisa lolos di perguruan tinggi atau mungkin jurusan lain, yang mungkin, jauh lebih baik daripada "sekedar" Sasing UNS.

Tapi di sini, jika boleh kusarankan, kalian tidak perlu ikut-ikutan memiliki keinginan yang sama seperti mereka. Sebab, mereka yang sudah berniat untuk keluar di tahun kedua biasanya tidak terlalu menggubris kuliahnya di tahun pertama. Akibatnya, tidak sedikit di antara mereka yang akhirnya jatuh nilainya padahal mata kuliah di semester awal belumlah terlalu susah. Dan akibat fatalnya, saat di tahun kedua mereka tidak lolos SNMPTN lagi, maka harus ada tanggungan nilai yang perlu diperbaiki tahun depan.

Mereka jelas rugi waktu dan tenaga. Belum ditambah dengan rasa malu karena terlalu "jumawa" sebab sudah meremehkan jurusan Sastra Inggris yang sebenarnya sudah berbaik hati menerima mereka.

Padahal yang mereka hadapi sebenarnya bukan perkara mudah.

Percayalah, tidak semua orang mampu memahami grammar dengan baik dan sempurna. Belum tentu semua mahasiswa bisa lulus di mata kuliah, yang mungkin dianggap remeh temeh, seperti speaking, listening, reading, dan writing.

Dan percayalah, jika kalian sudah merelakan diri untuk belajar di Sastra Inggris, ilmu yang kalian dapatkan tidak sekedar Inggris-inggrisan yang bisa kalian dapatkan di tempat kursus.

Bahkan, kalau kalian sudah dibekali dengan kegemaran membaca, menonton film, atau dekat dengan isu-isu populer, maka obrolan dan pemikiran kalian bisa disejajarkan dengan mereka yang belajar di Ilmu Komunikasi.

Tidak percaya?
Makanya, nggak usah ikut SNMPTN lagi. Syukuri jalan pilihan Tuhan yang sudah ditentukan untuk kalian ini di sini. Setidaknya dengan bersyukur, nikmat belajarnya tidak jadi luntur.

Ini kusampaikan di awal sebab starting point selalu kuanggap penting. Mengubah mindset yang keliru jangan menunggu kalau sudah semester tua. Sebab banyak potensi yang sebenarnya bisa digali menjadi prestasi sejak dini.

Lagipula untuk apalah kalian ikut ujian lagi tahun depan? Bukankah kalian sudah membayar SPP dua semester dengan uang yang dicari dengan susah payah oleh orang tua? Bukankah kalian juga sudah memiliki banyak teman di sini?

Berilah  kesempatan adik-adikmu yang berjuang tahun depan. Jika kamu mau tau, sebenarnya masih banyak di luar sana yang ingin duduk sebagai mahasiswa Sastra Inggris UNS, namun nyatanya mereka gagal. Bukan karena mereka lebih bodoh dari kalian, bukan. Tapi kalian yang dipilih Tuhan. Dan jika Tuhan yang memutuskan, pasti ada alasannya, yang pasti terbaik untuk kita.

Maka dari itu, sambil mencoba merenungkan apa alasan Tuhan meletakkan kita sebagai mahasiswa Sastra Inggris UNS, coba nikmati dulu perjalanannya. Kalau tidak bisa jadi mahasiswa yang terbaik, yah... jalani dulu sebaik-baiknya.

Sebab, tulisan selanjutnya akan kuposting....... segera!

Sample Gadget 2

Pengikut