Senin, 08 Oktober 2012

Open Plot


Nyoba-nyoba bikin cerpen, setelah dapet materi "Open Plot" di mata kuliah Pengantar Kajian Prosa. Dosen saya bilang, prosa yang beralur terbuka itu biasanya akhir ceritanya masih gantung, kadang bikin pembaca masih jengkel karena perlu menerka sendiri bagian akhir cerita.
Contoh penulis yang sukanya pake Open Plot itu F. Scott Fitzgerald, dengan karyanya yang best seller "The Great Gatsby" yang denger-denger nih 2013 ini bakal keluar filmnya.
Yah... ini sih masih abal-abal, tapi semoga sudah masuk ke prosa yang belongs to open plot deh :D
enjoy! ;)

Kesempatan Kedua



            Awal Oktober 2012, awal musim penghujan yang sama seperti tahun lalu. Talia masih melihat laptopnya dengan pandangan kosong. Deadline tugas, tumpukan materi ujian, kamar yang berantakan, perut yang kelaparan, seakan menjadi temannya saat kesepian. Bukan hal yang biasa, karena Talia biasanya selalu well-arranged dan kali ini ia merasa sedang benar-benar berantakan.

            Sejak hari kedua masuk kuliah di semester tiga dan percakapan di telepon malam itu antara Talia dengan Keanu yang membuat semangat kuliah Talia menghilang seterusnya.

            “Ada apa?” tanya Talia membuka percakapan.

            “We need to talk,”

            “Iya, ngomong aja…”

            “Aku lagi deket sama cewek,” jawab Keanu ragu-ragu tapi seakan tak punya pilihan lain selain mengungkapkan yang sesungguhnya pada Talia. Hanya satu kalimat, tapi sudah berhasil menciptakan petir dahsyat di kepala Talia yang saat itu masih tenang. Ia merasa tidak berfirasat apa-apa, sebelum keberangkatannya ke Solo pun hubungan mereka berdua masih baik-baik saja.

            “Terus?” jawab Talia dengan nada yang tidak enak.

            “Maafin aku ya, aku bikin kamu nggak enak ati terus”

            Seandainya bisa mengumpat, seketika Talia ingin sekali mengumpat pada Keanu saat itu juga. Semudah itu ia meminta maaf untuk kesalahan yang ia lakukan kedua kalinya.

            “Aku kurang apa sih sama kamu? Ini bukan yang pertama kamu bersikap manis sama aku, tapi ternyata di kampus kamu udah punya gebetan baru. Terus aku kudu piye?”

            “Nggak ada yang kurang dari kamu, kalo aku nggak nyaman sama kamu, udah dari dulu kamu aku lepas. Aku cuma nggak bisa kepisah jarak dengan tekanan yang ada di sekitarku,”

            “Pengorbananku setiap dua minggu sekali pulang buat kamu itu kurang? Kamu itu laki-laki, tapi nyatanya aku yang lebih banyak berkorban buat kamu, lebih-lebih berkorban perasaan. Tapi nyatanya pengorbananku sia-sia ya? Kata ajakan untuk balikan juga nggak pernah keluar dari mulutmu. Seharusnya aku sadar dari dulu, useless thing is waiting for you,”

            Baiklah, Keanu dan Talia adalah sepasang mantan kekasih yang masih menjalani hubungan tanpa status sejak mereka putus di bulan Desember 2010 sampai akhirnya mereka kuliah di kota yang berbeda. Keanu berhasil diterima di Fakultas Kedokteran Universitas swata di Semarang dan Talia juga berhasil lolos SNMPTN untuk menjadi mahasiswi di Perguruan Tinggi Negeri di Solo.

            Keanu dan Talia masih terlihat saling sayang namun karena terhalang restu dan jarak, mereka memutuskan untuk tidak terlalu jauh berkomitmen. Talia pun terima-terima saja, karena setahu dia, Keanu adalah lelaki yang setia. Hingga anggapan Talia dipatahkan dengan hubungan Keanu dengan teman sejawatnya yang bernama Keyla. Hanya saja Keanu bersikukuh tidak mengakui hubungan mereka kepada Talia. Seiring berjalannya waktu, tanpa perlu Talia mencari informasi, kenyataan sebenarnya pun terkuak perlahan dan Keanu tak lagi dapat mengelak.

            Percakapan di telepon masih berlanjut…

            “Jangan salahin aku sepenuhnya, ibarat tali, kamu tidak menarik aku dengan kuat, jadi jangan salahin aku kalo akhirnya aku lepas lagi”

            “Kamu tu ya, bisa-bisanya malah nyalahin aku. Aku ini perempuan, aku nggak mungkin mulai duluan. Aku jelas jaga harga diriku, kamu dulu yang putusin aku, terus aku yang harus minta balikan? Mana kamu habis punya pacar lagi, nggak ngaku pula.”

            Keanu terdiam lama hingga ia menyerah dan akhirnya minta maaf, “Iya aku minta maaf. Terus sekarang aku harus gimana?”

            “Itu juga pertanyaanku tadi, malah balik nanya,”

            “Tapi ceweknya yang ini masih punya pacar. Masa iya, aku harus ngerebut dulu kayak aku dapetin kamu dulu”

            Talia hanya bisa mengelus dada mendengar ungkapan Keanu. Ia hanya menjawab sinis,”Kan memang udah jadi bakatmu untuk jadi perebut pacar orang, ya kan?”

            Percakapan semakin dingin, Talia masih berusaha meredam emosinya agar tidak meluap. Ia menjaga tutur katanya untuk tetap berhati-hati dan memilih sedikit kata saja tapi yang langsung tepat sasaran. Talia hampir tidak habis pikir dengan kelakuan Keanu sekarang. Ia hampir tidak mengenal Keanu yang sekarang, sangat berbeda dengan Keanu yang ia kenal dulu saat SMA.

            “Silakan perjuangkan perempuan barumu itu, mungkin emang sekarang udah waktunya aku untuk ninggalin kamu,”

            “Hmm… sebenernya berat ngelepas kamu… Aku belum bisa nemuin pendengar yang baik kayak kamu, perempuan yang nggak banyak nuntut, bisa mendewasakan dan menenangkan, belum bisa…”

            Amarah Talia seketika luluh dengan rasa iba. Ia merasa begitu senang bahwa sebegitu hebatnya ia di mata Keanu. Seketika pula rasa ibanya hilang ketika ia tahu sudah ada sosok lain yang siap menggantikan posisinya. Tidak seorang pun mau diduakan, walaupun poligami pun sebenarnya diizinkan, tapi Talia tidak bisa

“Sebegitu hebatnya aku di mata kamu, tapi nggak sebanding dengan perjuangan cintamu. Luka yang kemarin belum bener-bener sembuh, Nu…” air mata Talia pun turun juga.

“Maafin aku ya’, sekarang aku udah stuck di dua arah, antara tetap mengejar Dinar atau tetap bertahan sama kamu”

            “Terserah kamu” –klik-

            Talia sudah tidak kuasa menahan emosinya hingga ia mengakhiri percakapan telepon malam itu secara mendadak. Ia menangis sejadi-jadinya, tapi ia mengingat masa lalu bahwa ia pernah di posisi yang sama. Hingga ia memaksa untuk mengusap air matanya, dan menegarkan hatinya untuk mengambil keputusan bahwa ia memang seharusnya segera meninggalkan Keanu dan mendapat pengganti yang jauh lebih baik.

            Hari berganti, Talia tetap berusaha ceria dan professional di kegiatan kampusnya, tapi ia tidak bisa mengelak bahwa ia mulai kehilangan nafsu belajar dan nafsu makan, pandangannya sering kosong, dan ia tampak tidak seperti biasanya, hingga teman-temannya mulai mengkhawatirkannya. Perlahan ia menceritakan apa yang terjadi, dan dugaannya pun benar bahwa teman-temannya semua menyuruhnya untuk segera move on.

            Minggu berganti, Talia pulang ke Semarang untuk melepas rindu dengan orang tuanya. Ia pun juga bercerita apa yang terjadi kepada Ibunya. Hingga ibunya pun memberi semangat yang sama seperti yang dilakukan teman-temannya. Ia kembali ke Solo tanpa ada niat sama sekali untuk menemui Keanu dengan luka hati yang masih sangat perih. Tanpa disadari, luka itu disembunyikan oleh Talia. Ia seakan berpura-pura tegar karena ia sudah begitu malu terlihat bodoh karena mencintai orang yang salah terlalu lama. Ia bertindak seolah-olah bertekad bulat untuk segera move on, tapi sebenarnya cintanya pada Keanu masih utuh.

            Bulan berganti, Keanu masih sesekali menghubungi Talia tanpa ada keperluan yang terlalu penting. Obrolan mereka tidak jelas arahnya kemana. Nampaknya Keanu terlihat seperti merindukan Talia, tapi ia terlalu gengsi untuk menyatakannya sementara Talia sudah terlalu kukuh untuk tidak terlalu banyak berharap pada Keanu. Jadi, bagaimana pun sikap Keanu padanya, ia hanya menganggap itu sekedar hubungan pertemanan. Walaupun sebenarnya Talia masih sering menunggu SMS, BBM, dan telepon dari Keanu.

            Tidak pernah ada yang tahu sampai kapan rumitnya hubungan antara Talia dan Keanu akan berakhir. Talia yang tak kunjung bisa melepaskan bayangan Keanu dari pikirannya walaupun sudah berulang kali menyakitinya. Keanu pun tak kunjung dapat melepaskan Talia walaupun hatinya sudah terisi berulang kali oleh perempuan lain.

            Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua dalam memperbaiki kesalahan sebelumnya melalui kesempatan kedua. Mereka yang mencintai tapi selalu tersakiti bisa saja memberikan kesempatan lebih dari dua kali, sayangnya tidak semua yang mereka cintai pantas diberi kesempatan kedua.



Solo, 8 Oktober 2012

DNMS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sample Gadget 2

Pengikut