Sabtu, 28 Desember 2013

Dua Desember Dua Ribu Tiga Belas

Menjejaki langit malam itu, ku beranikan diri menumpangi bus Sugeng Rahayu
Mulutku tak henti bertasbih, hatiku terus beristighfar, mataku hanya memandang kosong sambil sesekali basah akan air mata rasa tidak percaya

Tepat pukul sebelas malam, aku melaju pulang ke Semarang tanpa rasa takut yang mendera
Hanya satu setengah jam... dini hari ku masuki rumah dengan keadaan sepi tanpa tawa

Ku dekati Ibuku yang sudah tertidur di sudut pintu
bukan pipinya yang lebih dulu yang kusentuh, tapi kakinya yang kucium lebih dulu
di situ nantinya surgaku...

Allahumma firlaha warhamha waafiha wafuanha.
Andai semakin banyak kata-kataku dalam tulisan ini bisa membuatku semakin mampu mengikhlaskan kepergianmu, maka aku akan menulis sebanyak-banyaknya. Tapi ku rasa malah sebaliknya.
Dari tulisan ini, ku harap mereka yang membacanya juga bersedia mendoakan kebaikanmu di sana. Bahwasanya, engkau memang ibu yang seutuhnya... tidak mampu memberi nafkah materi, bekerja siang malam demi uang, tapi kasih sayang dan doamu yang mampu membuatku merasa berharga dan menjadi mutiara sesungguhnya.

Selamat jalan, mam... aku tak hanya sekedar cinta padamu... dan hanya Allah yang lebih mampu membahagiakanmu dengan cara-Nya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sample Gadget 2

Pengikut