Sabtu, 08 Februari 2014

(Un)fairy Tale #1 - Kamu Manusia, Bukan Dewa

"Kamu itu manusia, bukan dewa. Menangislah jika dirasa tidak kuat, mengeluhlah dan jangan sok-sokan merasa kuat. Dikiranya kamu bakal terlihat lemah kalo sudah berpedoman 'DILARANG SAMBAT!'? Yang ada kamu malah makin ditambahin beban karena kamu sok-sokan kuat!"

"Iya-iya... Aku nangis kok, tapi kan nggak di depan banyak orang juga. Aku sambat juga kali, tapi ya nggak ke semua orang juga. Udahlah... Masih tega dalam keadaan begini kamu marah-marahin aku?"

"Kamu emang perlu dikerasin. Biar nggak dikerasin sama orang yang salah,"

"Maksudnya?"

"Aku tau kamu butuh sosok ayah. Yang nggak cuma ngelindungin, tapi ngasih kamu peringatan kalo kamu salah,"

*makcles* Astrid seketika terhenyak mendengar ucapan sahabatnya dari telepon malam itu.

"Aku tau kamu sedih kehilangan Hanung karena apa. Ya karena kamu bisa dapet sosok ayah dari dia. Yang sayang sama kamu, bisa ngayomi, bisa nuntun kamu, dan kamu nggak pernah dikerasin sama dia. Sebagai temen, aku yang merasa punya tugas buat ngelakuin sisanya, yaitu ngasih kamu ketegasan!"

Percakapan hening sekitar dua menit. Dimas merasa menyesal sudah membentak, tapi ia tetap mencoba menjaga prinsip dengan berkata,"kalo mau nangis, nangis aja... jangan ditahan. Aku berharap kamu nangisin kesalahanmu yang sok-sokan kuat bukan nangisin kepergiannya Hanung."

"Hehehe... iyaa... ini udah nangis kok. Makasi ya"

Bahkan untuk menjadi terlalu kuat ternyata bukan keputusan yang tepat. Niat Astrid untuk tidak terlalu banyak mengeluh membuatnya sering merasa hampir depresi. Orang-orang terdekatnya pun sering kesal ketika Astrid jatuh sakit atau sedang mengalami kesulitan tapi ia memilih untuk tetap diam. Astrid berprinsip bahwa apa saja yang masih bisa ia selesaikan sendiri, maka akan ia selesaikan sendiri.

Dia seperti sudah terdoktrin dengan gambar yang ia dapat dari salah satu akun messenger-nya, bertuliskan "DILARANG SAMBAT" dengan simbol huruf S-coret seperti tanda rambu lalu lintas yang artinya "Dilarang Berhenti". Selain itu dia sering merasa kesal pada mereka yang mudah mengeluh jika menghadapi barang kesulitan sedikit saja. Ia merasa jijik dengan kebanyakan perempuan yang sedikit-sedikit mengeluh, merengek, cari perhatian, dan lain sebagainya. Jadi ia memilih untuk menjadi perempuan yang beda dari yang lainnya.

Keputusannya untuk menjadi seorang yang tertutup juga didukung ketika ia lebih sering menjadi pendengar setia daripada pembicara. Teman-temannya sering berkeluh kesah padanya, sedang ia jarang gantian berbagi duka dengan mereka. Bukan karena teman-temannya tidak mengizinkan, tapi karena Astrid terlalu malas jika masalahnya hanya didengar tanpa diberi solusi, atau mungkin  Astrid terlalu pengecut jika diberi solusi tapi tidak sesuai dengan ekspektasinya. Jadi, ia lebih memilih untuk diam.

"Mengeluh membuat kita menjadi kufur nikmat"

Prinsip itu ia pegang teguh namun tanpa sadar prinsipnya ia genggam melebihi kapasitasnya. Astrid menjadi orang yang terbuka untuk menjadi pendengar tapi tertutup untuk menjadi pencerita. Ia hanya mampu bercerita pada orang-orang tertentu saja, itu pun tidak semua ia ceritakan. Dia mengira, jika ia tidak mengeluh maka ia akan terlihat kuat. Padahal secara tidak sadar ia sedang merobohkan benteng kekuatannya sendiri secara perlahan.

Sejak percakapan dengan Dimas malam itu, Astrid mencoba membenahi dirinya. Ia ingin mencoba terbuka dengan orang-orang sekitarnya tanpa perlu melampaui batas.

"Semoga bentengmu setelah ini kuat lagi ya habis aku gertak malam ini" batin Dimas dari sana.

1 komentar:

  1. Henry Miller bilang; "There are only three things to be done with a woman. You can love her, suffer for her, or turn her into literature." Maka cara terbaik untuk nglupain cewek (nggak cinta, nggak menderita karena kangen juga) adalah mengubah sosoknya ke dalam karya sastra.

    Dan kurasa itu juga bisa dilakukan sama cewek. Iya kan, Astrid? Memilih membuatnya jadi cerita daripada curhat sana-sini? :-D

    BalasHapus

Sample Gadget 2

Pengikut