Kamis, 24 April 2014

(Un)Fairy Tale #11 - Jangan Yasini Aku

Astrid sedang khusyuk membacakan surat Yasin ketika di rumahnya sedang diadakan pengajian rutin dalam rangka memperingati 100 hari meninggalnya alm. Ibundanya malam itu. Setelah semuanya selesai, para tamu pun mulai pamit. Seketika itu pula Astrid mulai membantu Sandra untuk berberes rumah sambil melihat banyak makanan dan cetakan buku Yasin yang tersisa.

"Aku kalo udah nyusul Bunda nanti, nggak usah dibikin acara begini ya kak," kata Astrid lugu.

"Hush. Ngomongmu ini lho, kok waton. Lagian kenapa kamu tiba-tiba ngomong begini?" tanya Sandra keheranan dengan tingkah adiknya.

"Enggakpapa sih, ya pokoknya jangan aja,"

"Kebanyakan gaul sama mereka yang ngelarang ritual 7, 40, 100, 1000 harian ya kamu? Mereka ngomong apa emang kok sampe tiba-tiba langsung ngasih kakak wasiat kayak begitu?"

"Hish kakak apaan sih. Bukan perkara gaul sama siapa. Aku ngomong begini karena emang cari tahu teorinya sama lihat realitanya."

"Maksudnya?" tanya Sandra masih tetap penasaran.

"Ya, ritual peringatan tujuh harian, empat puluh harian, dan seterusnya ini emang nggak ada di Al Quran atau hadist yang shohih kak. Ritual kayak begini memang kabarnya itu pengaruh dari budaya Hindu. Kan kakak tahu sendiri dulu zamannya Walisongo nyebarin agama pake apa, pake seni budaya kan? Ya bukan maksud nyalahin Walisongo juga sih, tapi gimana-gimana juga bawaan nenek moyang emang pasti kasih pengaruh ke budaya kita yang sekarang. Termasuk dalam hal ini."

"Ya iya sih, tapi kan niat kita ngadain acara begini buat doain Bunda... Masa iya niat baik dihalang-halangin, dek?"

"Santai sih, kak. Allah Maha Paham Segala Bahasa. Kita sebenernya bisa doain Bunda kapan aja dan dimana aja, tanpa perlu mengadakan acara ini. Allah pasti lebih suka sisi khusyuknya kita doain Bunda, bukan gede-gedean acara pengajian dan bagus-bagusan cetakan buku Yasin kok."

"Ih kamu... Masa pengorbanan kita kamu nilai begitu sih? Lha terus menurutmu kalo nggak ngadain acara begini, harusnya kita ngapain dong buat 'ngirim' amal jariyah ke Bunda di sana?"

"Ya maaf kak, aku ngeliatnya sayang aja. Kita ngorbanin waktu dan biaya yang nggak sedikit, untuk hidangan para tamu, cetakan buku, dan persiapan lainnya. Tapi belum tentu kan mereka datang memang bertujuan untuk khusyuk ngaji dan doain Bunda? Belum tentu juga buku Yasin ini bakal dibaca sama mereka."

"Heh suuzan deh kamu,"

"Astaghfirullah, iya maaf deh. Bukan maksud suuzan juga sih. Tapi antusiasme juga bisa diliat kalik kak pas mereka dateng tadi. Ya alih-alih kalo memang mau berbagi hidangan, kasihlah ke mereka yang lebih membutuhkan. Ke anak yatim piatu mungkin, ke masjid mungkin. Kayaknya yang begitu menurutku lebih berfaedah sih. Doa mereka juga mustajab lho, kak. Langsung didengar Allah. Hayoloh!"

Sandra merenung panjang mendengar penjelasan adiknya. Entah paham atau mungkin sudah mulai bergejolak hatinya, Sandra hanya bisa diam. Namun Astrid seperti bisa menangkap bahwa kakaknya itu memang sudah memahami alasan mengapa ia tidak ingin dibacakan Yasin saat meninggal nanti.
Sandra pun merasa alasannya juga masuk akal. Tapi sepertinya ia masih belum bisa melepas adat istiadat.

"Ya udah sih kak, nggak usah dipikir banget-banget. Itu kan kepengenanku, kalo aku lebih dulu nyusul Bunda nanti. Kalo buat peringatan harinya Bunda ya udah, diselesaiin aja dulu sampe rampung 1000 hari. Urusan selanjutnya ya Allahualam," kata Astrid mencoba menenangkan lamunan Sandra.

"Iya sih... Okelah..."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sample Gadget 2

Pengikut