Senin, 12 Mei 2014

Sedikit Cerita dari Peksimida



Di waktu-waktu terakhir saya dalam rebahan badan yang begitu nyaman, saya mencoba menyempatkan menulis ini. Cerita singkat dari kota mendoan, Purwokerto. Kesempatan saya bisa menjajaki kota ini dimulai dari keisengan saya mengikuti seleksi pencarian delegasi kampus untuk dikirim ke dalam kompetisi PEKSIMIDA (Pekan Seni Mahasiswa Daerah) Jawa Tengah. Kompetisi ini dibagi menjadi beberapa tangkai lomba dan lomba yang saya ikuti adalah penulisan karya sastra. Lomba penulisan karya sastra sendiri masih dibagi menjadi tiga yaitu penulisan puisi, cerpen, dan lakon.

Awalnya saya mendaftarkan diri untuk mengikuti lomba penulisan cerpen. Namun saat hari pelaksanaan lomba, Pak Tarno, sang pengoordinir urusan kemahasiswaan kampus menyatakan bahwa peserta diizinkan untuk mengikuti lomba lebih dari satu selama tidak melebihi waktu yang disediakan. Akhirnya saya iseng membuat sebuah puisi singkat yang atas kuasa-Nya bisa membawa saya berangkat bersama orang-orang terpilih ke Purwokerto mewakili UNS dalam Peksimida 2014.

Peksimida ini berlangsung di Univ. Muhamadiyah Purwokerto. Dimulai pukul 09.00 kami disuguhi dua tema yaitu Kearifan Lokal dan Perlindungan Anak. Dari hasil perenungan diri yang cukup panjang ditemani dengan Anak Semua Bangsa-nya Pram, saya memilih tema kedua.

Puisi saya kira-kira seperti ini:


Bocah Belenggu Dunia

Jeda jiwaku menghantarkan pada renungan
Kontemplasi panjang tak berkesudahan
Merebah pandang sebuah bahaya
Terpiris fenomena teranggap biasa

            Ku lihat mereka terpaku bisu
            Tanpa buku, senyum kaku dan jiwa yang sendu
            Entah bias tawa atau duka
            Mereka ku lihat tidak dalam bahagia

Sajak masa laluku menari-nari
Seorang bocah tertawa tak takut mati
Kini mereka tak bisa menyanyi merdu
Mati suri dalam pelukan senyap individu

            Beri mereka waktu ‘tuk mengadu
            Aku mau mereka menjadi bocah yang lugu
            Mereka kini cerdas tapi dungu
            Sebab modernitas mereka tertipu

Bunda…
tak inginkah kau rangkul mereka?

Ayah…
tak sudikah kau pahami gejolak hati mereka?


            Mereka ingin kau hadir
            Mereka ingin kau tak sekedar mampir

Ruang hatinya berlubang
Kosong tak berkasih sayang
Sedang kau asik dengan rupiahmu
Lalu pergi dan meninggalkannya pada jongosmu

            Seperti tak punya nurani
            Anak sendiri sering kalah dengan materi
            Pikirmu terlalu pragmatis
            Kesehatan jiwamu mungkin terlampau kritis

Senangkah kau melihat mereka tak kenal tetangganya?
Bahagiakah kau menyaksikan mereka terbelenggu dalam rumahnya?
Palung hati mereka kesepian
Yang ku tangkap mereka haus akan dekapan

            Sayang, kau tak banyak tahu
            Sayang, kau tak mau tahu
            Mereka kau kira tidak dalam bahaya
            Mereka kau kira sudah bahagia

Kehancurannya tinggal menunggu waktu
Sampai akhirnya kau menyesal dalam bisu

Ketahuilah kau Ayah dan Bunda… 
Bahagia duniawi yang selama ini kau tuhankan 
Tak sedikit pun kan memberi penyelamatan

Sayangnya, puisi ini tidak mampu membawa saya seberuntung sebelumnya untuk bisa berangkat ke Palangkaraya, mewakili Jawa Tengah dalam kompetisi Peksiminas. Beberapa masukan dari juri yang bisa saya tangkap adalah membuat puisi tidak perlu terpaku pada kesamaan rima dan persajakan. Bahasa yang digunakan pun sebaiknya tidak terlalu vulgar.

Terlepas dari itu, saya sudah bersyukur bahwasanya UNS tetap mampu membawa tiga piala yaitu Juara I Lomba Penulisan Puisi oleh Dinary Oktaria, Juara III Penulisan Cerpen oleh Titi Setiyoningsih, dan Juara III Baca Puisi oleh Dias.

Ini foto para juara:
 ini foto saya di tengah para juara.
  
Semuanya keren, saya beruntung bisa bertandang ke Peksimida kemarin. Di sana saya berkumpul dengan para pecinta seni dalam bahasa, sastra. Sekedar info saja, Titi Setiyoningsih yang menjuarai penulisan cerpen ternyata sudah menulis dan menerbitkan bukunya yang berjudul Lollipop. 

Saya sangat bersyukur bisa belajar bagaimana menulis yang baik dari mereka. Walaupun sedikit kecewa belum bisa mendapat predikat juara, tapi saya sadar bahwa saya memang belum ada apa-apanya dibanding mereka. Entah, mungkin nafas menulis saya masih perlu dilatih lagi, bacaan saya masih perlu diperbanyak lagi, siapa tahu saya bisa menang di kompetisi lain seperti mereka nantinya.

Sukses untuk Dinary! Kami tunggu kabar baik dari Peksiminas September nanti :) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sample Gadget 2

Pengikut