Selasa, 13 Mei 2014

(Un)Fairy Tale #13 - Mimpi Masa Lalu

Waktu terus berlalu
tanpa ku sadari yang ada hanya..
aku dan kenangan
masih teringat jelas
senyum terakhir yang kau beri untukku

Tak pernah ku mencoba
dan tak ingin ku mengisi hatiku
dengan cinta yang lain
kan ku biarkan ruang hampa dalam hatiku

Bila aku... harus mencintai,
dan berbagi hati... itu hanya denganmu
Namun bila ku harus tanpamu
Akan ku arungi hidup tanpa bercinta

Astrid yang sedang asik memilih buku di toko buku sore itu mendadak terhenyak dengan lagu yang diputar di dalam toko tersebut. Ia kenal betul dengan lagu itu, lagu jaman SD atau SMP, lagu dari sebuah band yang bernama Element. Tapi apa judulnya ia tak tahu pasti.

"Lagunya desperate banget," katanya dalam hati. Tanpa banyak menghiraukan, ia pun melanjutkan aktivitas perburuan bukunya. Setelah tenggelam dalam keasikan bersama banyak pilihan, akhirnya ia segera membayar buku yang telah ia pilih dan segera pulang.

Setelah melihat arloji yang ada di tangannya, Astrid baru sadar bahwa sudah mendekati waktu Maghrib. Ia pun memutuskan untuk mampir ke Masjid Kalitan sebelum pulang.

Sepanjang perjalanan menuju Masjid Kalitan tanpa tersadar ia menyanyikan lagu yang ia dengar di toko buku tadi. "Bila aku... harus mencintai... dan berbagi hati... itu hanya denganmu... eh... kok aku jadi nyanyi ini sih," sambil lalu ia pun melupakannya lagi. Ia segera mengambil wudhu dan ikut solat berjamaah dengan para jamaah lainnya.

Dalam sujud terakhirnya, ia tiba-tiba terbayang akan mimpinya. Mimpi yang pernah ia alami sekitar empat tahun yang lalu.

*
"Kamu turun di sini aja."

"Lhoh, kenapa aku diturunin di sini?"

Astrid pun terjatuh dari atas motor. Hanung hanya bisa melihatnya dari atas motor tanpa berbuat apa-apa. Tubuhnya yang tersungkur di jalanan membuatnya terluka. Kepalanya yang terbentur aspal yang kasar pun akhirnya memar, kaki tangannya lecet, ia tak berdaya.

"Hanuuuuung!" Astrid hanya mampu berteriak, namun Hanung akhirnya tetap pergi begitu saja. Ia seakan tak peduli keadaan Astrid saat itu, yang untuk berdiri saja ia tak mampu.

Samar-samar ia melihat jalanan di sekitarnya. Tidak ada siapa-siapa yang bisa ia mintai tolong. Gelap. Astrid tak sadar hingga terbuka matanya, ia sudah tertidur di atas bebatuan. Samar-samar ia melihat bahwa ia sudah tidak lagi di tempat ia jatuh sebelumnya. Perlahan ia mencoba melihat kanan dan kirinya, aliran sungai, jernih, dan segar. Tak ada siapa-siapa selain ia dengan gaun putih yang ia kenakan.

"Aku dimana? Siapa yang sudah menggantikan pakaianku?"

Ia melihat tangan dan kakinya, masih penuh luka, tapi tak seperih sebelumnya. Ia coba menyentuh memar di dahinya. Masih sedikit sakit dan masih teringat jelas juga betapa sakitnya ketika Hanung menjatuhkannya dari motor saat itu, lalu meninggalkannya begitu saja.

"Kamu siapa?" tanya Astrid yang tiba-tiba dihampiri oleh seseorang yang tak jelas seperti apa rupanya. Yang terlihat hanya cahaya. Orang itu tak banyak menjawab. Ia hanya memberikan uluran tangan, lalu menggendong Astrid dan membawanya ke suatu tempat.

Astrid kembali sadar dalam pejaman matanya. Tiba-tiba ia seperti berada di kamar tidur orang tuanya. Dengan mata yang berkunang-kunang dan kepala yang begitu pusing ia coba memastikan. Ia sentuh kasurnya, ia tarik nafas dalam-dalam, sekedar memastikan. Kini ia sadar bahwa ia berada di rumahnya yang dulu, rumah masa kecilnya ketika Ayahnya belum bangkrut, ketika Bunda belum sakit. Rumah itu tak banyak berubah, hanya tampak lebih sepi.

Ia coba untuk bangun dan keluar dari kamar. Sekeluarnya Astrid dari kamar, ia melihat cermin yang masih lengkap dengan mesin jahit di sampingnya, yang sudah turun temurun dari eyang putri yang begitu disayang oleh bunda. Sekilas Astrid melihat refleksi dirinya sendiri di cermin. Memar di kepalanya masih ada, luka di tangan dan kakinya masih lengkap, bekasnya masihnya nyata walau sudah memulih dan tak sesakit sebelumnya.

Sepintas ia melihat ke arah ruang tamu, sepertinya ada seseorang di sana. Perlahan Astrid mendekatinya tanpa gentar. Seketika ia melihat sosok yang tidak asing baginya.

"Hanung..." perlahan Astrid coba memanggil orang yang duduk di ruang tamu itu.

"Astrid, maafin aku. Kamu nggak papa kan?" setengah hampir menangis Hanung menunjukkan rasa penyesalannya yang begitu dalam. Ia melihat luka dan memar yang ada di tubuh Astrid dan begitu merasa bersalah. Jelas terlihat dari raut wajahnya, Hanung khawatir dengan keadaan Astrid saat itu. "Maafin aku yang udah ninggalin kamu," sambil tak bisa banyak berkata Hanung memohon ampun sambil dengan lembut merangkul Astrid yang begitu lemah jatuh di pelukannya.

Astrid tidak bisa banyak berkata, hanya menahan sakit sambil tenggelam dalam pelukan Hanung begitu saja.

*

"Astagfirullahalazim"

Astrid beristighfar sebanyak-banyaknya seusai solat Maghrib waktu itu. Pertanda apa ini? Mimpi itu sudah terlalu lama untuk kembali diingat bahkan sebenarnya sudah lapuk terkubur waktu dan kenangan. Bagaimana mungkin bisa muncul lagi di permukaan memorinya? Dan mengapa memori itu muncul di sujud Astrid pada-Nya?"

"Hanung, baik-baik sajakah kamu di sana?"

Lagu yang ia dengar baru saja di toko buku tiba-tiba ia kaitkan dengan kejadian ini. Tapi Astrid seperti tidak bisa banyak menyimpulkan apa-apa. Astrid sudah tidak mau lagi mengingat-ingat Hanung bahkan secuil saja, apa lagi berniat untuk kembali.

Astrid kembali beristighfar, menarik nafas panjang, dan berpasrah.

"Ya Allah Sang Pemilik Hatiku, aku mohon... jangan bolak balik hatiku lagi, untuk kesekian kali. Amin"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sample Gadget 2

Pengikut