Sabtu, 17 Januari 2015

I am not charlie; Opposing #JeSuisCharlie

Media internasional hari ini dibuat heboh dengan kasus penembakan yang terjadi di kantor sebuah media cetak bernama Charlie Hebdo, di Perancis. Peristiwa yang telah menewaskan 12 orang wartawan dari koran yang sudah terkenal satir ini membuat banyak pihak semakin mengecam kaum muslim beragama yang dinilai radikal dan ekstremis. Masyarakat dari berbagai kalangan, khususnya wartawan dan para kartunis pun melakukan aksi solidaritas dengan membuat slogan "Je suis Charlie", yang artinya "Saya Charlie" dalam Bahasa Indonesia.

Setelah kasus ini mencuat di media, kaum muslim di Perancis mulai tersudut posisinya. Bahkan dalam sebuah artikel yang dipublikasikan oleh New York Times, pun menyatakan keheranan dengan pandangan sosial yang begitu menyudutkan penganut agama Islam sebagai pihak yang bersalah dalam hal ini. Padahal isu yang diluncurkan oleh Charlie Hebdo sendiri bukan hanya menyudutkan Islam. Sebab karikatur yang diusut sebagai benang merah masalah ini bergambar Al Quran, Al kitab, dan Injil di dalam toilet ini ditampilkan dengan sebuah tulisan "In the toilet, all religions."



Pembelaan terhadap wartawan dan kartunis Charlie Hebdo pun berdatangan. Mereka menganggap bahwa apa yang ditampilkan oleh Charlie Hebdo bukanlah sebuah kesalahan besar. Atas nama "freedom of speech", siapa pun tidak berhak melarang orang lain berpendapat bahkan jika itu menyangkut agama sekalipun.

Dalam artikel lain yang dipublikasikan oleh theconversation.com, kaum muslim sedikit dibela dengan pernyataan bahwa kebebasan berpendapat atau "freedom of speech" seringnya mengabaikan toleransi. Kebebasan berpendapat yang diagung-agungkan oleh mereka seakan melupakan tanggung jawabnya dalam menghormati sesama. Setiap orang berhak berpendapat, tapi secara tertulis atau tidak, setiap orang tidak diizinkan membuat propaganda.

Jika sudah begini, Islam seolah diperburuk citranya sebagai agama yang radikal dan fundamental. Umat muslim dianggap teroris sebab mereka tidak terima karena figur Nabinya dijadikan kartun. Seperti yang sudah dituliskan oleh Esty Dyah Imaniar dalam kolom Opini Republika (16/1/2015), bahwasanya Nabi Muhammad SAW tidak memberikan teladan untuk membalas cemoohan dengan sebuah tembakan. Sebab dahulu saat beliau SAW dilempari kotoran sekali pun, beliau tidak membalas orang tersebut dengan hal serupa. Bahkan ketika si pelaku sakit, Nabi Muhamad SAW datang untuk menjenguknya.



Tapi bagi mereka yang tidak percaya pastilah hanya berkilah bahwa semua itu hanya fiktif belaka. Mereka pun menunjukkan bukti nyata yang ditampilkan oleh media. Padahal seperti kita ketahui bersama bahwasanya media tidak sejujur yang kita kira. Mereka dikuasai oleh oknnum tertentu dimana mereka berupaya untuk mempengaruhi masyarakat agar percaya dengan apa yang media katakan. Tidak bisa dipungkiri bahwa "What media said is what society believe"

Sekarang bukan saatnya untuk menyalahkan media atau masyarakat mayoritas yang mengaku Islam tapi tidak percaya dengan keislamannya. Coba renungi apa yang telah dikatakan Mahatma Gandhi, "Jangan patuhi aturan-notion- (yang direkayasa) tapi berpegang teguhlah pada kebenaran,"

Selakanlah sedikit waktumu untuk membaca, mengkaji ulang, dan berpikir kembali... Sebenarnya siapa yang salah di balik semua ini?

1 komentar:

  1. They're not perpetuating freedom of speech, they're abusing it. There is a freedom of speech, but not freedom of hatred. When you study Islam deeply, you'll see that it has the best concept of giving opinion: when you judge something, strengthen it with scientific proof, not just ignorance stereotype. "...Say: 'Produce your proof if you are truthful." (2:111).

    And yes, human are human anyway.

    BalasHapus

Sample Gadget 2

Pengikut