Rabu, 21 Januari 2015

Menanggapi #Selfi4Siauw Secara Rasional

Baru-baru saja trending topic world wide (TTWW) diramaikan dengan #Selfie4Siauw. Hal ini dipicu dari postingan Felix Siauw yang dianggap masyarakat luas bahwa Selfie adalah haram. Saya, secara pribadi, yang masih sering selfie pun merasa takjub dengan animo masyarakat luas, bahkan dunia dalam menanggapi hal ini.

Terang saja, selfie sebagai implementasi bentuk narsisme memang sudah menjadi trend bahkan budaya. Tidak hanya yang muda, tetapi juga orang tua. Kamera ponsel zaman sekarang pun sudah sangat mendukung semua aspek masyarakat untuk sekedar mengambil foto dirinya sendiri. Bahkan hasil foto yang terlihat jauh lebih baik dari aslinya semakin memicu banyak orang untuk selfie. Sehingga tidak heran jika Ust. Felix Siauw merasa fenomena Selfie yang kian menjamur ini menjadi suatu "problem" bagi Islam, khususnya para muslimah.

Saya di sini tidak sepenuhnya menyalahkan Ust. Felix Siauw yang menganggap Selfie sebagai "masalah". Sebab apa yang dikatakan tokoh mualaf ini sangatlah rasional, dan berdasar fakta. Saya memang bukan sekolah di bidang psikologi, tapi kakak saya adalah seorang sarjana psikologi dari Unika Soegija Pranata Semarang. Ia sempat mengingatkan saya bahwa narsisme sebenarnya adalah salah satu penyakit psikologis dimana si penderita terlalu mencintai diri sendiri. Dalam ilmu psikologi narsis disebut dengan NPD (Narsistic Personality Disorder).

Ciri-ciri penderita NPD sendiri adalah sebagai berikut:
1. Fantasi
Seseorang akan dipenuhi fantasi tentang kekuasaan, kecantikan, kepintaran, kesuksesan, atau cinta sejati.
2. Superior
Seseorang merasa paling hebat tapi tidak sepadan dengan usahanya
3. Tak berempati
Ketidakmampuan seseorang untuk mengetahui atau mengenali perasaan dan kebutuhan orang lain.
4. Iri
Penderita akan sering merasa iri dengan orang lain atau menganggap orang lain akan iri dengannya.
5. Istimewa
Penderita gangguan ini selalu ingin diistimewakan oleh orang lain.
6. Sombong
Merasa paling hebat sehingga cenderung menunjukkan sikap yang sombong.
7. Sensitif
Mudah terluka, emosional dan memiliki pribadi yang lemah.
pf button both Hati Hati, Narsis Termasuk Gangguan Psikologis!

Ngeri ya?
 
Mungkin kalian saat membaca ini akan berkilah, "Ah, nggak mungkinlah sampai segitunya. Masa cuma sekedar selfie bisa bikin sensitif, sombong, dsb."
Tapi bisa kita lihat bersama, manusia zaman sekarang nggak tahan kritik, nggak usah jauh-jauh karena saya sendiri pun sering sensitif kalau dibilang gendutan atau jerawatan.
Parahnya, saya juga sering mudah bangga jika foto saya dibilang cantik. Padahal saya tahu, saya sebenarnya tidak secantik itu. Banyak yang lebih cantik daripada saya, dan mereka tidak narsis, alias biasa saja. Lalu akibatnya ada ambisi pada diri saya, dan mungkin mereka penggemar selfie yang narsis, untuk terus memperbaiki penampilan agar semakin kece saat selfie.
 
Padahal semakin ke sini, saya semakin sadar bahwa semakin banyak diberi pujian artinya kita 
 semakin diberi banyak ujian. Contoh kecil, saat saya memutuskan untuk berjilbab syar'i dan saya upload foto-foto selfie saya, banyak yang berkomentar baik bahkan memuji. Tidakkah kalian tahu bahwa saya senang sekaligus sedih? Bahkan ada sisi malu, walaupun hanya beberapa persen.

Mengapa demikian?
 
Jelas, karena saya merasa ada beban di hati saat dibilang "Calon Istri Idaman", "Perempuan  Sholehah", "Bidadari Surga", dan semacamnya. Saya memang mengamini komentar-komentar tersebut sebagai doa. Tapi orang yang normal sih kalau dipuji berlebihan malah bikin penyakit.
 
Coba bayangkan apa jadinya jika saya terlalu asik tenggelam dalam pujian banyak orang? Saya akan berhijab syari hanya untuk dibilang "baik" oleh banyak orang, bahasa kerennya pencitraan. (naudzubillaah)

Lambat laun saya bisa saja lupa untuk memperbaiki diri dan malah lebih asik membeli gamis baru dan jilbab syari baru hanya untuk foto-foto dan terus mendapatkan pujian dari orang-orang. -naudzubillahiminzalik- *sambil ngetok-ngetok meja*

Nah, itu lho.. yang dimaksud Ust Felix Siauw dalam hal Riya (sombong) dan Ujub (membanggakan diri sendiri).


Kalo udah bangga sama diri sendiri mah bahaya abis. Orang itu bakal nggak terima kalo dicela atau dihina, barang kata sedikit aja. Padahal salah satu dosen inspirator saya, Bu Ida, Kusuma Dewi, pernah bilang,"kamu jangan pernah marah jika dihina, sebab manusia memang sudah hina di mata Tuhan."

Kalau kata Ust. Salim A. Fillah sih gini,"manusia itu asalnya dari mani (SPERMA-sorry), dan bakal berakhir jadi bangkai." Terus ngapain masih nekad banggain diri sendiri? Kita ini nggak lebih menjijikan dari itu guys sebenernya. FYI aja.

Islam mengajarkan untuk bilang "Alhamdulillah" yang artinya "Segala puji bagi Allah". Kalau teman-teman nasrani bilangnya "Puji Tuhan". Tuh, semua agama aja ngajarin kalau yang pantes dipuji itu Tuhan, Allah SWT, bukan manusia.

Gitu ya.
Intinya saya tidak berani meng-claim bahwa Selfie itu haram. Siapa gue? Ilmu agama masih dangkal begini. Begitu pula dengan Felix Siauw yang menyatakan bahwa Selfie menjadi "masalah" jika itu dilihat dari niatnya.

Karena saya sendiri juga masih sering selfie, dan akan terus selfie untuk introspeksi diri.
 
semoga bermanfaat.
Salam :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sample Gadget 2

Pengikut