Sabtu, 17 Januari 2015

Move On yang Sesungguhnya

Sudah 2015, masih belum move on?

Mungkin pertanyaan ini akan ditertawakan secara jamaah oleh mereka yang memang sudah benar-benar move on. Tapi bagi mereka yang masih gagal dalam resolusinya di kesekian-tahun-baru, maka pertanyaan di atas akan menjadi sebuah tamparan keras.

Jelas saja demikian. Bagi para pembaca yang mungkin kenal dekat dengan saya,  pasti merasa tidak asing dengan tulisan-tulisan (hina) saya saat masa-masa galau dulu.

Sini, saya kasih tahu... kalau sekarang saya masih jomblo.

Aneh?
Pasti kalian mengira bahwa saya sampai sekarang masih belum move on. Bukan, bukan karena saya nggak laku juga. Kalau saya mau, saya bisa saja pacaran. Tinggal bilang "iya" ke salah satu dari yang mau sama saya, selesai perkara. Saya nantinya lepas dari kehinaan jomblo yang mana sering di-bully di sosial media.


Beberapa teman yang "kasihan" pada saya akhirnya mencoba mengenalkan beberapa teman lelakinya pada saya. Alih-alih untuk jadian, BBM-nya intens saya respon juga alhamdulillah.

Pasti saya dikira SOMBONG

Ya bolehlah, silakan... Manusia kayak saya mah emang pantes dihina. Tapi jujur saja, saya memang bukan tipikal orang yang addicted untuk chatting atau smsan terlalu lama. Sekedar informasi, bahwa saya sekarang benar-benar menikmati hidup saya di dunia nyata. Memperluas pergaulan dan wawasan, belajar dan berjalan, memperbanyak teman yang benar-benar nyata, tertawa lepas tanpa menggunakan ketikan "wkwkwkwk", adalah warna warni hidup saya sekarang dan insha Allah seterusnya.

Pun, kenapa saya jomblo? Karena saya memang belum pantas untuk mendapatkan pendamping. Makanya, saya sedang sibuk-sibuknya memantaskan diri... jadi maaf kalau BBM, WA, atau SMS-nya sering nggak saya balas. hehehe

Intinya...

Kehilangan mengajarkan saya untuk lebih bijaksana mengelola air mata. Sebenar-benarnya kehilangan akan menyadarkan kita bahwa sebenarnya manusia memang tidak punya apa-apa.

Dan semenjak ibu saya menghadap Yang Mahakuasa, saya merasa itu adalah titik dimana saya memang sudah tidak punya apa-apa dan siapa-siapa, selain Sang Pencipta.
Dan ketika saya memutuskan untuk semakin mendekat pada-Nya, saya malah merasa dicukupkan segalanya. Yang hilang seolah tergantikan. Air mata seakan terbayar bahagia. Rasa sesak di dada seperti diberi kelonggaran untuk mengecap nikmatnya keikhlasan.

Rasanya ingin sekali berbagi kenikmatan ini dengan mereka yang masih saja gagal dengan resolusinya dari tahun ke tahun. Sayangnya Dia hanya menghendaki nikmat ini dirasakan oleh mereka yang mencari, maka Allah baru menghendaki. (Q.S. 28:56)

Ya, semoga siapa pun yang membaca tulisan ini, kelak segera ingin mencari dan ikut menikmati kebahagiaan ini. Kebahagiaan dalam berhijrah, move on yang sesungguhnya, menuju kebaikan dan kebahagiaan yang hakiki tanpa perlu pusing menargetkan resolusi.

2 komentar:

Sample Gadget 2

Pengikut