Sabtu, 09 Mei 2015

Negeri Visioner - Jenesys 2.0 Batch 11 Mass Media



Memasuki hari ketiga, 25 Februari 2015, seluruh peserta Jenesys 2.0 Batch 11 mendapat kesempatan untuk mengunjungi salah satu museum yang bernama Miraikan. Ini merupakan museum nasional yang menampilkan tekhnologi mutakhir. Lokasinya terletak di Daiba, Tokyo. 

Tidak seperti kebanyakan museum yang ada di Indonesia, Miraikan menampilkan sesuatu yang lain dari sudut pandang saya. Sesuai dengan namanya yang berarti “masa depan”, museum ini sama sekali tidak menampilkan hal-hal yang berbau masa lalu. Sekali pun ada, itu hanya secuil dari sekian benda yang dipamerkan. 

Beberapa contoh seperti kutipan berikut:



Gambar 1 (Atas):
“Message from Le Corbusier – When old ways of doing things leave you stranded, try an approach based on an entirely new concept unconstrained by the old methods and assumptions.


Gambar 2 (Bawah):
ALTERNATIVE CREATIVITY - New ideas unconstrained by traditional values give us the ability to create new things

Keduanya menjelaskan bahwa old things memang seharusnya dipertahankan tetapi bukan untuk dibiarkan old tanpa perubahan. Menurut mereka, semuanya membutuhkan modifikasi untuk menciptakan sebuah kreativitas baru. Dengan begitu, mereka mampu berpikir cerdas dan visioner dalam menciptakan hal-hal yang lebih bermanfaat untuk masa kini dan masa yang akan datang. Semua itu tercipta tanpa perlu meninggalkan nilai-nilai dan norma-norma tradisional.

Pemikiran ini seharusnya bisa diadaptasi oleh masyarakat Indonesia. Jepang menjadi modern tanpa kehilangan jati diri. Melalui Miraikan, saya melihat ideologi masyarakat Jepang yang begitu berorientasi pada masa depan daripada tenggelam dalam masa lalu. Walaupun begitu, mereka tidak kehilangan jati diri dengan tetap mempertahankan identitas Jepang melalui nilai-nilai lama (old things) yang dimodifikasi secara kreatif. 

Sayangnya, masyarakat Indonesia sudah termaktub pada bidal “JAS MERAH” yang merupakan singkatan dari “Jangan Melupakan Sejarah”. Bisa dilihat bersama bahwa museum di Indonesia hampir terlihat homogen dengan menampilkan patung, arca, dan benda-benda bersejarah lainnya. 

Tulisan ini tidak bermaksud menggunggat bahwa belajar sejarah itu tidak penting. Terlepas dari mayoritas masyarakat Indonesia yang tidak suka membaca, mereka juga tidak gemar mengunjungi museum. Hal itu diperparah dengan kurangnya modifikasi yang menarik dari pengelola museum agar masyarakat lebih tertarik untuk berkunjung. 

Maka, jangan heran jika kita, bangsa Indonesia, seolah-olah hanya berjalan di tempat. Tidak maju, tidak juga mundur. Sebab kecenderungan dari kita yang mudah mengadopsi new things tanpa tahu jati diri, sebab tak betul-betul mempelajari sejarah, apalagi sampai berhasil mempertahankan old values.  

Bukankah begitu? 

1 komentar:

Sample Gadget 2

Pengikut