Minggu, 10 Mei 2015

Shinkansen Bekas di Indonesia





Saat melihat Subway dan Shinkansen yang ada di Jepang, seketika saya teringat pada tulisan Anif Punto yang dibukukan dengan judul “Negara Kuli”. Kalau tak salah ingat, salah satu tulisannya menyebutkan bahwa negeri kita tercinta ini merupakan Negara yang penuh dengan barang rongsokan, alias barang bekas. 

Ini terbukti di berbagai aspek teknologi yang ada di Indonesia. Salah satu contohnya adalah KRL Commuter Line yang ada di daerah Jabodetabek saat ini. Bagi yang tidak berdomisili dan tinggal di sana, mungkin belum pernah merasakan transportasi umum ini. Tapi sekedar informasi saja, KRL yang kini begitu vital bagi warga Jakarta dan sekitarnya ini memang di-import dari Jepang.

Impor yang dimaksud di sini tidak serta merta Jepang memproduksi gerbong-gerbong baru untuk selanjutnya dibeli oleh Indonesia. Tidak, tidak seperti itu. Keuangan Indonesia tidak mampu membeli yang baru. Sehingga, subway yang sudah tidak layak pakai di Jepang akan diekspor ke Indonesia.
Anif Punto bahkan tidak tanggung-tanggung menyebut bahwa Indonesia adalah Negara yang rela membeli barang yang sudah dianggap sampah. Apakah pemerintah membeli gerbong-gerbong subway tersebut karena Indonesia tidak bisa memproduksi kereta sendiri? Tentu saja tidak. 

Dalam situs online Rakyat Merdeka dilansir bahwa Indonesia memiliki PT Inka yang sebenarnya mampu memproduksi gerbong kereta sendiri. Namun, dengan dalih bahwa harga impor gerbong bekas lebih murah dan bisa tersedia lebih cepat, maka PT KAI lebih memilih untuk impor daripada menggunakan produksi dalam negeri.

Lagipula jika para pembaca sekalian sudah menonton film “Habibie dan Ainur”, pasti tidak lupa pada adegan Bapak BJ Habibie yang mempresentasikan gerbong kereta yang sangat kuat. Saking kuatnya, gerbong tersebut tidak hancur ketika dihimpit dengan tekanan sampai 200 ton. Bukankah itu seharusnya bisa jadi kebanggaan yang sama layaknya Shinkansen di Jepang? 

Entah siapa yang patut disalahkan. Setidaknya rakyat Indonesia, khususnya warga ibukota sekarang sudah sangat merasakan manfaat dari gerbong bekas subway ini. Pemerintah Jepang sendiri pun turut beruntung bisa membuang sampah pada tempatnya, masih dapat duit pula. Jadi, mari kita berpikir bijak, karena dalam hal ini dua-duanya sama dapat untung. Bak simbiosis mutualisme. Walaupun pada kenyataannya hal ini membuat ngilu di hati.

Dan saat saya bersama teman-teman peserta Jenesys lainnya diberi kesempatan untuk menjadi penumpang Shinkanshen, seketika itu pula saya berpikir apakah mungkin suatu saat kereta super cepat kebanggaan  Jepang itu juga akan dibuang ke Indonesia?


Tanya siapa??? Hehehe…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sample Gadget 2

Pengikut